Vaksin Sinovac Halal, Menag

Vaksin Sinovac Halal, Menag

Niam menjelaskan, kebolehan penggunaan vaksin produk AstraZeneca ini tidak berlaku lagi jika alasan di atas hilang. Indonesia, negara dengan penduduk mayoritas Muslim, turut memperhatikan unsur kehalalan obat dan makanan, termasuk untuk urusan vaksin. Kehalalan vaksin coirona asal perusahaan China, Sinovac, sempat dipertanyakan sebelum izin darurat BPOM dan fatwa MUI terbit. Beredar sebuah narasi melalui pesan berantai aplikasi Whatsapp yang menyebutkan vaksin korona mengandung babi.

Terkait penggunaan vaksin AstraZeneca sebenarnya keputusan akhirnya sama, boleh. Namun kebolehan vaksin AstraZeneca menurut MUI Pusat bersifat darurat karenanya hanya berlaku selama tidak ada vaksin lain yang halal dan suci. Kalau sudah ada vaksin yang halal dan suci maka standing kebolehannya menjadi berubah dengan sendirinya menjadi haram. Direktur Eksekutif LPPOM MUI, Muti Arintawati mengatakan bahwa pihaknya tidak akan memberikan sertifikasi halal untuk vaksin yang mengandung babi, meskipun dalam proses pembuatan vaksin tersebut sudah dinetralisasi atau dibersihkan.

Laboratorium Baric bekerja dengan Caitlin Edwards, seorang spesialis penelitian dan master mahasiswa kesehatan masyarakat di UNC-Chapel Hill, dalam penelitian yang menunjukkan bahwa manusia mungkin rentan terhadap limpahan SADS-CoV. Dia menambahkan pada minggu ke 3 januari 2021 diharapkan sudah ada EUA yang diberikan BPOM. Setelah itu vaksin bisa segera diproduksi dengan bahan baku bulk yang didapatkan dari China. Tapi saya yakin akan aman saja karena efek dari dosis pertama tidak terlalu parah. Beredar sebuah pesan berantai pada platform WhatsApp Vaksin Sinovac hanya untuk kelinci percobaan, tidak untuk disebarluaskan karena mengandung bahan-bahan berbahaya seperti boraks, formalin dan merkuri.

Vaksin Sinovac babi

Gus Yaqut juga memastikan jika vaksin Sinovac tidak memanfaatkan bagian tubuh manusia. Ketiga, ketersediaan vaksin Covid-19 yang halal dan suci tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan jumlah penduduk sebanyak 182 juta orang, dalam upaya menciptakan kekebalan komunitas. PR TASIKMALAYA – Tersebar rumor di berbagai media jejaring sosial jika Vaksin Sinovac, vaksin yang digunakan untuk menangani Covid-19 akibat virus SARS-Cov-2 mengandung babi. Bahkan antigen vaksin ini sama sekali tidak bersinggungan dengan enzim tripsin babi baik secara langsung maupun tidak. Dalam poin pertama fatwa dinyatakan bahwa vaksin COVID-19 produksi Sinovac Life Science Co Ltd China dan PT Biofarma hukumnya adalah suci dan halal. “Nah setelah produk ini berhasil, maka selanjutnya akan dibiakkan di sel dan dalam proses pemijahan sel tidak lagi menggunakan tripsin babi, tapi tripsin rekombinan,” ujarnya.

AstraZenecadapat digunakan di Indonesia dan mengantongi izin penggunaan darurat . Vaksin AstraZeneca dinilai memiliki lebih banyak manfaat ketimbang risiko yang dihasilkan. Bila dikelompokkan, vaksin Covid-19 ini ada yang dibuat dari virus, ada yang “tidak”. Sikap MUI pusat tecermin dalam Fatwa Nomor 14 Tahun 2021 tentang Penggunaan Vaksin AstraZeneca dengan memenuhi lima syarat. Pertama, ada kondisi kebutuhan yang mendesak (hajah syari’iyyah) yang menduduki kondisi darurat syar’iy (dlarurah syar’iyyah). Kedua, ada keterangan dari ahli kompeten dan tepercaya tentang adanya bahaya jika tidak segera dilakukan vaksinasi Covid-19.

Tercatat sejumlah program vaksinasi pemerintah seperti vaksinasi Measles Rubella , meningitis, polio dan lainnya mendapat tanggapan pro dan kontra. Lalu, dilansir dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia, tidak semua proses pembuatan vaksin menggunakan tripsin babi. Karena enzim dari hewan babi harus benar-benar dibersihkan agar tak mengganggu proses pengolahan vaksin selanjutnya.

“Dari sisi umat Islam, tentu kita ingin memastikan apakah konten final dari vaksin ini mengandung konten yang haram,” ungkap Ahmad. Dalam pembuatan vaksin dengan teknologi mRNA, produsen sama sekali tidak melibatkan partikel virus. Sehingga, pemerintah bisa mengetahui dengan pasti vaksin produksi dari Sinovac benar-benar halal. Liputan6.com, Jakarta Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Penny Lukito mengungkapkan bahwa vaksin COVID-19 dari Sinovac tidak mengandung genetik babi.

“Saya minta kepada seluruh umat beragama, yang sesuai dengan kriteria dan syarat kesehatan yang ditentukan, agar untuk jangan ragu mengikuti vaksinasi Covid-19 apabila nanti gilirannya sudah tiba,” imbaunya. Dikatakan Budi, pertimbangan vaksin AstraZeneca tidak terlepas dari keberpihakan pemerintah dalam menuntaskan pandemi Covid-19. “Ini bisa menjadi bencana, jika tidak ada keterlibatan masyarakat yang kuat dari pemerintah dan petugas kesehatan,” katanya. Gelatin yang berasal dari daging babi telah banyak digunakan sebagai penstabil untuk memastikan vaksin tetap aman dan efektif selama penyimpanan dan pengangkutan. Beberapa perusahaan telah bekerja selama bertahun-tahun untuk mengembangkan vaksin bebas daging babi.

Comments are closed.