Tenaga Kesehatan Covid

Imunisasi adalah suatu upaya untuk membentuk atau meningkatkan kekebalan tubuh, baik orang dewasa maupun anak-anak, terhadap suatu penyakit. Tujuan pemberian imunisasi adalah untuk mencegah penyakit tertentu atau menghindari risiko munculnya gejala yang berat saat terserang suatu penyakit. Hingga saat ini, pemberian vaksin COVID-19 adalah solusi yang dinilai paling jitu untuk mengurangi jumlah kasus infeksi virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit COVID-19.

Sedangkan, vaksin Covid-19 buatan Wuhan Institute of Biological Products/Sinopharm mendapatkan izin “emergency use” di China dan Uni Emirat Arab. Vaksin Covid-19 buatan Sinovac/Instituto Butantan/Bio Farma telah mendapatkan izin “emergency use” di China. Terdapat juga vaksin Covid-19 buatan Beijing Institute of Biological Products/Sinopharm yang mendapatkan izin “emergency use “di China dan Uni Emirat Arab. Menurut Peraturan BPOM Nomor 27 Tahun 2020 tentang Kriteria dan Tatalaksana Registrasi Obat, EUA dapat diberikan untuk vaksin Covid-19 dengan syarat digunakan dan didistribusikan secara terbatas dengan peninjauan rutin terus-menerus. Pada 24 Desember 2020, vaksin Merah Putih yang dikembangkan oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman telah melewati 60 persen proses laboratorium. Dijadwalkan, vaksin merah putih dapat selesai dibuat pada Maret 2021 untuk kemudian diberikan ke Bio Farma dan diuji secara klinis.

Negara-negara yang bergabung dengan fasilitas ini diberi kesempatan untuk membeli vaksin antara 20 hingga 50 persen dari jumlah populasi mereka. Uang urunan yang dikumpulkan dari tiap negara peserta akan dilihat sebagai gambaran permintaan vaksin bagi negara tersebut. Sebagai catatan, vaksin Sinovac menggunakan versi non-infeksi dari virus Corona untuk memicu respon imun.

Vaksin dapat menangani Covid

Menurutnya, hal ini penting bahkan ketika dunia memiliki kapasitas produksi dan pendanaan yang sudah diatur. Setelah prioritas tersebut, akan dilaksanakan vaksinasi terhadap masyarakat umum dan pelaku sektor perekonomian lain. Total terdapat a hundred and sixty juta orang yang akan masuk dalam program vaksinasi nasional dengan kebutuhan 320 juta dosis vaksin. Sebagai tahap awal, pemerintah akan memprioritaskan program vaksinasi kepada garda terdepat perlawanan terhadap Covid-19, yakni paramedis, pelayan publik, serta TNI/Polri dan aparat penegak hukum.

Sementara itu, pemerintah tidak boleh sekadar mengandalkan vaksin dan beranggapan bahwa vaksinasi dapat mengatasi seluruh masalah di pandemi. Di mana menurut ahli epidemiologi Universitas Airlangga, Dr dr Windhu Purnomo MS, pemerintah juga harus memperkuat pelacakan dan pengetesan guna mendeteksi kasus positif sebanyak mungkin. Ia meyakini, tindakan ini penting untuk memutus rantai penularan secepat mungkin. Rektor Universitas Indonesia Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., Ph.D, menyampaikan “Meskipun dalam masa pandemi, peneliti UI turut aktif dalam melakukan riset dan pengembangan produk dari berbagai disiplin ilmu. UI telah melakukan banyak inovasi bagi pemerintah dalam upaya penanggulangan pandemi Covid-19, salah satunya adalah pengembangan vaksin DNA dan mRNA. Webinar ini merupakan kontribusi UI dengan tujuan vaksin ini dapat bermanfaat bagi Indonesia.

Kemudian jika ada orang lain menyentuh benda yang sudah terkontaminasi dengan droplet tersebut, lalu orang itu menyentuh mata, hidung atau mulut , maka orang itu dapat terinfeksi COVID-19. Seseorang juga bisa terinfeksi COVID-19 ketika tanpa sengaja menghirup droplet dari penderita. Inilah sebabnya mengapa kita penting untuk menjaga jarak hingga kurang lebih satu meter dari orang yang sakit. Orang dapat terinfeksi tanpa menunjukkan gejala, namun tetap dapat menyebarkannya ke orang lain.

Seperti diketahu, vaksinasi adalah prosedur untuk memasukkan vaksin ke dalam tubuh. Hal tersebut dilakukan untuk memicu sistem imun tubuh, sehingga ada imunitas terhadap suatu penyakit tertentu. Lalu bagaimanakah sebenarnya vaksin COVID-19 itu apa benar bisa efektif memutus penyebaran? Dokter spesialis penyakit dalam Siloam Hospitals Lippo Village, Tangerang, Banten, Dr dr Benyamin Lukito SpPD mengatakan, vaksinasi sebetulnya adalah cara untuk mencegah suatu penyakit menyerang tubuh seseorang.

“Saya mengusulkan agar pengurus RT/RW dibantu warga relawan semisal guru memberikan edukasi ke rumah-rumah para lansia ini untuk menjelaskan manfaat vaksinasi Covd-19,” ucap Soedjatmiko. Apabila dua hal ini kita lakukan akan lebih mudah untuk yang lainnya,” ucap Tonang. Tonang mengatakan, secara prinsip masyarakat tidak perlu ragu vaksinasi Covid-19 di siang hari saat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.

Jika kita tidak melakukan upaya pencegahan berupa menghindari keramaian, jumlah orang terinfeksi akan meledak dan fasilitas layanan kesehatan akan kewalahan sehingga banyak kasus akan tidak tertangani. Selama vaksin belum ditemukan, cara terbaik untuk kembali beraktivitas adalah dengan menerapkan ADAPTASI KEBIASAAN BARU di tengah pandemi. “Anda tak benar-benar perlu mengembangkan vaksin yang aman dan efektif untuk melawan semua virus. Ahli yang menjadi perwakilan WHO untuk COVID-19 ini menyebut tak ada jaminan vaksin bisa mengalahkan virus yang terus beradaptasi. Namun, seorang pakar kesehatan international di Inggris mengingatkan publik dunia agar tak terpaku pada serum peningkat imunitas tersebut.

Setelah itu saya disuntik vaksin dan menunggu di ruang observasi selama 30 menit sampai saat ini, saya tak merasakan efek samping apapun, Alhamdulillah aman dan halal,” katanya. Mengenai vaksin, Haedar menyatakan bahwa vaksin merupakan keniscayaan sebagai bagian dari usaha menghadapi Covid-19. Seraya meminta Menkes dan pemerintah seksama khususnya yang menyangkut keamanan dan kehalalan, disertai keterbukaan. “Terkait pandemi ini Muhammadiyah telah bergerakall outmelalui MCCC, Aisyiyah, dan semua organ Persyarikatan sampai bawah baik dalam gerak keagaamaan maupun kesehatan,” tutur Haedar.